
PUNYABANDUNG,- Industri kecantikan bukan sekadar soal penampilan. Ia telah menjadi motor ekonomi, sarana pemberdayaan sosial, serta ruang ekspresi diri yang mendorong lahirnya generasi muda yang lebih percaya diri dan berdaya. Hal ini menjadi benang merah dalam acara bedah buku “The Essentiality of Beauty” yang digelar L’Oréal Indonesia bersama Universitas Multimedia Nusantara (UMN), menghadirkan dialog lintas generasi tentang makna kecantikan yang sesungguhnya.
Kegiatan ini menghadirkan ratusan mahasiswa UMN sebagai peserta utama, sekaligus membuka ruang diskusi antara akademisi, praktisi, dan pelaku industri. Para pembicara menekankan bahwa kecantikan kini berkembang menjadi bahasa budaya dan sarana ekspresi identitas, bukan sekadar persoalan fisik.
“Kecantikan adalah sektor yang dinamis, bukan sekadar konsumsi, tetapi motor pertumbuhan ekonomi. Setiap inovasi produk memicu rantai peluang baru bagi peneliti, tenaga kerja, hingga wirausahawan muda,” ujar Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability L’Oréal Indonesia.
Data yang dipaparkan dalam buku The Essentiality of Beauty menunjukkan nilai pasar industri kecantikan Indonesia telah mencapai Rp175 triliun pada 2024, meningkat hampir 50% dalam tiga tahun terakhir. Lebih dari 400 ribu izin edar kosmetik diterbitkan, 69% di antaranya diproduksi secara lokal. Sektor ini mendukung 60 ribu pekerjaan langsung dan jutaan pekerjaan tidak langsung melalui 4 juta unit ritel dan 105 ribu salon di seluruh Indonesia.
“Mahasiswa perlu melihat industri ini bukan sekadar menjual produk, tapi juga membentuk makna sosial yang memengaruhi cara kita berinteraksi,” ujar Cendera Rizky Anugrah Bangun, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMN.
Buku tersebut juga mengungkap bahwa 82% Gen Z di Indonesia bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan, sementara 88% peduli terhadap isu krisis iklim. Angka ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan kini menjadi bagian dari identitas sosial generasi muda.
Sebagai respons, L’Oréal Indonesia menjalankan program L’Oréal for the Future, di mana pabriknya di Jababeka telah beroperasi sepenuhnya dengan energi terbarukan dan berhasil mengolah kembali lebih dari 300 ton limbah pasca konsumsi sejak 2023. Inovasi seperti solusi refill, kemasan daur ulang, hingga formulasi berbasis green science juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap lingkungan.
“Membawa tumbler, memilih skincare eco-friendly, atau menggunakan produk refill kini menjadi cara berkomunikasi tentang kepedulian dan modernitas,” tambah Cendera Rizky.
Buku The Essentiality of Beauty juga menyoroti kaitan erat antara kecantikan dan kesehatan mental. Sebanyak 80% perempuan merasa lebih bahagia dan 88% lebih percaya diri setelah menggunakan produk kecantikan, sementara 98% individu dengan masalah kulit mengalami gangguan emosional.
“Bagi generasi saya, kecantikan adalah ruang ekspresi sekaligus peluang karier. Industri ini tidak lagi berhenti di meja rias, tetapi menjadi ekosistem tempat kami bisa berkarya dan berkontribusi,” ujar Agatha Chelsea, Entertainer, Neuroscience Educator, dan Founder Newronedu.
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UMN, Dr. Rismi Juliadi, menambahkan bahwa kecantikan sejatinya adalah harmoni:
“Ia tidak hanya tampak pada aspek fisik, tetapi juga hadir dalam diri seseorang—bagaimana kita berpikir, bersikap, dan berinteraksi.”
Melalui kolaborasi dengan UMN, L’Oréal Indonesia menegaskan bahwa generasi muda bukan sekadar konsumen, melainkan mitra strategis dalam membentuk masa depan industri kecantikan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami percaya kecantikan adalah kekuatan yang mampu menghadirkan perubahan nyata. Dengan memahami esensi kecantikan dari perspektif ekonomi, sosial, hingga keberlanjutan, generasi muda dapat mengambil peran aktif membentuk masa depan industri ini. And you are all the future of this legacy,” tutup Melanie Masriel.***




